Yuk, Belajar Menulis (Khoth) Arab!

Bismillah..

Hari ini in sya Allah mau berbagi tentang belajar menulis huruf arab secara benar sesuai kaidah alias belajar khoth. Saya hanya mau share pelajaran yang didapat dari channel telegram Belajar Khoth asuhan ustadz Syamsu Muhajir ya, bukan mau mengajarkan hihi.. Saya sendiri juga masih belajar dan ternyata banyak cara penulisan saya yang kurang sesuai kaidah hiks.. Alhamdulillah ini salah satu hasil dari deaktivasi fb dan ig, jadi ada waktu untuk uplek belajar yang lain.

Pada materi yang akan saya share dibawah ini bersumber pada channel telegram https://tlgrm.me/BELAJARKHOTH. Pada channel tersebut dipelajari khot Naskhi dan Riq’ah, dibimbing oleh Ustadz Syamsu Muhajir. Monggo yang sudah install telegram bisa join langsung ke channel tersebut. Disana juga ada video penjelasan ustadz sehingga kita bisa lebih paham terhadap materi yang diberikan.

Apa pentingnya mempelajari khoth?

☄Amiirul-mukminin, Ali – radliyallahu ‘anhu – berkata :
“ Khothth adalah alamat (tanda), jika ditulis lebih jelas, lebih bagus.”

☄‘Umar Ibnul Khaththab – radliyallahu ‘anhu – berkata :
“ …sebaik-baik khothth adalah yang paling jelas “

☄Hambal bin Ishaaq – rahimahullah – bercerita :
“ Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal – rahimahullah – memperhatikan diriku pada saat aku sedang menulis dengan khothth yang sangat kecil (rumit), maka dia menegurku : Jangan kau lakukan hal itu, karena suatu ketika jika kamu butuh untuk membacanya kembali, tulisanmu akan mengkhianatimu”.

☄Al-Khathiib Al-Baghdadi – rahimahullah – berkata :
“ Tidak sepantasnya seorang penuntut ilmu menulis dengan khothth yang kecil dan rumit kecuali dalam keadaan terpaksa, seperti karena tidak memiliki kertas yang cukup karena faqir. Atau karena dia sedang menempuh perjalanan, maka dia boleh menulis kecil-kecil agar bukunya ringan dibawa. Mayoritas keadaan para pelajar yang melakukan rihlah (menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu) memiliki dua udzur ini”

(Sumber : Al-Jaami’ liakhlaaqirrawi wa aadaabissaami’ karya Al-Khathib Al-Baghdadi, bab : Tahsiinulkhothth watajwiiduhu)

Nah, sebelum mulai belajar khoth, kita perlu juga mengetahui adab dan teknik memegang pena.

1. Hendaknya menulis dengan TANGAN KANAN.

Dari ‘Aisyah -rodliyallohu ‘anhu, ia berkata (artinya) : “Adalah Rasululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- beliau menyukai mendahulukan SEBELAH KANAN dalam banyak urusannya; ketika bersuci, bersisir dan memakai sandal.” (Muttafaq ‘alaihi)

2. Untuk memudahkan menggerakkan pena saat menulis, hendaknya peserta memegang pena dengan tiga jari tangan kanan: ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah dengan posisi jari telunjuk melengkung ke atas (lihat gambar postingan)

 

Langsung saja yaa.. berikut adalah beberapa materi cara penulisan huruf hijaiyyah yang benar, mulai dari huruf alif hingga ya’ yang terdapat pada channel telegram belajar khoth. Yuk, mari kita pelajari bersama apakah penulisan huruf arab kita selama ini sudah sesuai dengan kaidah  yang benar atau belum.

Continue reading

Advertisements

Hati-Hati Rajah Terselubung!

Beberapa waktu lalu ketika mudik lebaran di Semarang, saya ziyaroh/ berkunjung ke rumah tante.

Ketika hendak berpamitan, mata saya tertuju pada pajangan dinding yang bentuknya tampak tidak asing, mirip dengan kepunyaan orangtua saya yang sudah lama dicopot, ketika suami saya mengetahui ada yang janggal pada pajangan tersebut.

Ketika saya mendekat, ternyata betul pola tulisannya mirip dengan kepunyaan orangtua saya.

Tante saya bilang kalau itu adalah pajangan bertuliskan asmaul husna, dibeli sudah lama ketika waktu itu anak pertamanya “kena sawan” sesudah adiknya meninggal.

Hmm.. begitupun dulu orangtua saya bilang, mereka mengira bahwa yang mereka miliki adalah pajangan dinding biasa bertuliskan asmaul husna.

Keluarga saya tidak menyadari bahwa yang dipajang itu adalah rajah (jimat yang berupa tulisan).

Agar lebih yakin lagi apakah itu betul rajah atau bukan, saya mengkonsultasikan gambar tersebut dengan seorang teman (yang suaminya adalah seorang ustadz). Beliau lalu bilang bahwa betul itu rajah dan harus segera dimusnahkan (dibakar) karena ketika dibaca oleh beliau isi pajangannya yaitu nama malaikat, asmaul husna, ayat, diacak-acak, kemudian tulisan Abu Bakar, Umar, dan Ali dibolak-balik. Continue reading

Ghibah Berjama’ah

“Diet yang paling susah yaitu diet makan daging saudaranya sendiri”

Suatu kalimat yang saya baca di wall FB seseorang. Kalimat sarkas tapi ada benarnya, terlebih di era saat ini dimana berjamur akun-akun ghibah yang notabene banyak followernya .

Cerita pengalaman pribadi, ketika melewati beranda FB seringkali saya temui status ataupun artikel berita yang membicarakan keburukan orang lain dan sesudah itu bermunculan pada kolom komentar olokan-olokan serta hinaan yang tidak sepatutnya pada orang yang diposting tersebut.

Saya belum paham dimana sisi menyenangkannya ketika kita membicarakan hal yang buruk tentang orang lain dan mengoloknya beramai-ramai.  Siapa sih kita kok teganya menghakimi massal? Padahal kita pun belum tentu lebih baik dari dia. Terlebih jika yang dikomentari adalah urusan pribadinya. Haduh, apa kita ini banyak waktu dan tenaga tersisa sehingga sempat-sempatnya mencari-cari aib orang lain dan menyebarluaskannya.

Sepertinya sekarang ini media sosial kita sedang gandrung dengan ghibah berjama’ah. Terlebih dengan munculnya akun-akun medsos yang sarat dengan ghibah seperti yang saya sebutkan di awal. Saya pun pernah penasaran dengan akun yang ramai dibicarakan tersebut tapi tak lama saya unfollow karena ngga kuat dengan isi beritanya. Kebanyakan isine mung ngrasani, ya Allah tiba-tiba pening pala bebi. Pun waktu saya bisa habis dengan hal yang sia-sia apabila terus-terusan membacanya.

Kalau ada yang berkilah, “Tapi kan isi beritanya benar”. Hellow.. ghibah itu ya memang kemungkinan benar apa yang diberitakan, kalau tidak benar namanya fitnah. Continue reading

Efek Buruk Sosmed

​Efek sosmed, bisa menimbulkan kebaikan, tapi juga keburukan. Ibarat dua sisi mata pisau, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Ini adalah efek buruknya..

Melihat orang masuk atm sandalnya dicopot, 

Difoto-masukkan sosmed-ditertawakan bareng-bareng

Melihat perempuan gemuk pake jilbab celananya legging ketat,

Difoto-masukkan sosmed-dicela bareng-bareng

Melihat seorang ibu bonceng motor pake jaket eh di jaketnya nyantol beha, 

Difoto-masukkan sosmed-dikomen bareng-bareng

Seandainya,

Yang melihat orang masuk ATM copot sandal, langsung diberitahukan “bu, sandalnya dipakai saja, tidak usah dilepas”

Yang melihat perempuan berjilbab celana legging ketat, langsung bilang “bu, pake rok yang longgar in sya Allah lebih bagus (sambil senyum)”

Yang melihat beha kecantol di jaket, langsung diingatkan, “bu behanya nyantol di jaket, dilepas dulu bu”

Sepertinya hal itu akan mengurangi dosa berjama’ah

Kalaupun tidak sempat menegur, tidak usah ambil fotonya

Ngga semua hal perlu di-upload ke sosmed kan?

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.” ( QS. Al-Isra : 36 )

#self_reminder
**Ketiga contoh di atas bukan rekaan, tapi saya melihat sendiri di newsfeed facebook

Lunasi Pinjamanmu!

​Sebagai seorang pelaku usaha online dengan modal terbatas, maka untuk mendapatkan modal usaha saya menggunakan beberapa cara.

Berdasar pengalaman pribadi salah satu cara untuk menambah modal usaha yaitu dengan ikut arisan emak-emak, dimana ketika mendapat uang kocokan maka sepenuhnya uang yang didapat diputarkan untuk modal.

Cara yang lain yaitu dengan mengajukan pinjaman lunak ke suami (kalau suami sedang ada kelapangan rizki)
Walaupun pinjamnya ke suami, tapi saya in sya Allah tetap amanah (tidak bermudah-mudah), yaitu dengan menyegerakan pengembalian ketika sudah ada dananya di kantong zeatoys. Saya bilang “pinjam dalam jangka waktu sekian”, dan bersungguh-sungguh ingin melunasi hutang tersebut

Fyi, rekening terbagi dua, yang zeatoys menggunakan mandiri dan bca, sedangkan punya suami BNI dan BRI
Nah, ketika saya tidak ada pinjaman, jarang sekali customer yang transfer ke rek BRI/BNI punya suami. Tapi ketika saya ada pinjaman, qoddarulloh banyak customer yg transfer ke rekening tersebut, jadi sekalian buat bayar hutang. Yang terakhir bahkan dalam sebulan sudah lunas pinjaman saya dalam jumlah lumayan besar. Tapi kata suami suruh muterin lagi..ya wes manut hihi..

Disini saya memahami hakikat hadits ini..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkannya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399 dan An Nasai no. 4686, shahih kecuali lafazh “fid dunya” -di dunia-)

Alhamdulillah dimudahkan Allah dalam pelunasan pinjaman modal ke suami.

Yuk mari yang masih mempunyai tanggungan hutang, niatkan dalam hati dengan sungguh-sungguh bahwa kita akan berusaha melunasi hutang tersebut dengan segera. In sya Allah pertolongan Allah akan datang dan dimudahkan untuk melunasi hutang tersebut.

Jangan sampai terbersit dalam hati kita meminjam tanpa ada niat mengembalikan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410, hasan shahih)

Ingin termasuk yang disebutkan dalam hadits yang pertama atau kedua? Pilihan di tangan kita…

Dzalim karena Hutang?

hutangSelamat datang di “permasalahan sejuta umat”, yaitu utang piutang.

Yup, hampir semua orang pernah mengalaminya, entah dalam posisi peminjam ataupun pemberi hutang.

Masalah utang piutang ini memang cukup pelik. Masing-masing pihak seharusnya memahami adab-adab utang piutang sebelum menjalankannya agar terhindar dari berbagai permasalahan dikemudian hari. Sebagaimana kita mengerti bahwa masalah harta itu sangatlah rumit, bahkan bisa menjadi pemutus tali silaturrahim antar keluarga/saudara/teman dan penyebab terjadinya berbagai kerusakan dalam masyarakat.

Perlu diketahui (berdasar pengalaman pribadi), banyak kondisi terjadi dimana ketika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain bukan berarti dia berlebihan dalam hal materi, tapi ada dana yang dia tangguhkan pengeluarannya untuk bisa membantu orang lain. Jadi please deh.. ketika peminjam sudah mempunyai kecukupan rizki, maka segeralah melunasi hutangnya tanpa perlu menunggu ditagih.

Hal yang patut disayangkan (dan sering terjadi) adalah ketika pemberi hutang menagih karena membutuhkan uangnya tersebut, si peminjam malah bersikap masa bodoh (diam saja dan tidak membalas pesan dari yang meminjamkan atau tidak mau menemui ketika dikunjungi). Bahkan lebih “ngenes” lagi ada yang bersikap galak kepada orang yang telah membantunya tersebut, sehingga orang yang meminjamkan posisinya bagai pengemis ketika meminta haknya sendiri. Na’udzubillahi mindzalik. Continue reading

Potret Salaf dalam Mengamalkan Ilmu

Seringkali ketika menemui suatu tulisan menarik, misalnya sebuah hadits maka kita tidak segan membaginya di medsos. Berharap menjadi pengingat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Tidak ada yang salah dengan hal ini, asalkan apa yang kita share memang ada dalilnya, bukan sesuatu yang dusta.

Jangan lupa sebelum share sebaiknya kita teliti dulu apakah hadits tersebut betul adanya atau tidak, karena seringkali dijumpai seseorang dengan mudahnya share sesuatu dengan mengatasnamakan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- padahal ketika kita search pada situs yang in sya Allah terpercaya atau tanyakan hal tersebut kepada asatidz atau orang yang lebih paham, ternyata dalilnya lemah atau bahkan tidak ada dalilnya sama sekali.

Selain berbagi info mengenai hadits tersebut, ada baiknya pula kita menjalankan apa yang kita share. Bukan sekedar jarkoni (iso ngajar nanging ora iso nglakoni) alias cakap berbicara, tetapi tidak cakap dalam bertindak.  Jangan sampai kita termasuk ke dalam golongan orang-orang berikut..

Allah berfirman (yang artinya),
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash Shaff [61]: 2-3)

Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, ‘Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?’. Dia menjawab, ‘Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya’.”

Continue reading