Ghibah Berjama’ah

“Diet yang paling susah yaitu diet makan daging saudaranya sendiri”

Suatu kalimat yang saya baca di wall FB seseorang. Kalimat sarkas tapi ada benarnya, terlebih di era saat ini dimana berjamur akun-akun ghibah yang notabene banyak followernya .

Cerita pengalaman pribadi, ketika melewati beranda FB seringkali saya temui status ataupun artikel berita yang membicarakan keburukan orang lain dan sesudah itu bermunculan pada kolom komentar olokan-olokan serta hinaan yang tidak sepatutnya pada orang yang diposting tersebut.

Saya belum paham dimana sisi menyenangkannya ketika kita membicarakan hal yang buruk tentang orang lain dan mengoloknya beramai-ramai.  Siapa sih kita kok teganya menghakimi massal? Padahal kita pun belum tentu lebih baik dari dia. Terlebih jika yang dikomentari adalah urusan pribadinya. Haduh, opo dewe ki turah-turah lambe dan turah-turah wektu sehingga sempat-sempatnya mencari-cari aib orang lain dan menyebarluaskannya.

Sepertinya sekarang ini media sosial kita sedang gandrung dengan ghibah berjama’ah. Terlebih dengan munculnya akun-akun medsos yang sarat dengan ghibah seperti yang saya sebutkan di awal. Saya pun pernah penasaran dengan akun yang ramai dibicarakan tersebut tapi tak lama saya unfollow karena ngga kuat dengan isi beritanya. Kebanyakan isine mung ngrasani, ya Allah tiba-tiba pening pala bebi. Pun waktu saya bisa habis dengan hal yang sia-sia apabila terus-terusan membacanya.

Kalau ada yang berkilah, “Tapi kan isi beritanya benar”. Hellow.. ghibah itu ya memang kemungkinan benar apa yang diberitakan, kalau tidak benar namanya fitnah. Continue reading

Bahaya Ghibah dan Namimah

gosip_cart

pic taken from salafy.wordpress.com

Beberapa waktu yang lalu, terdapat satu kejadian tidak mengenakkan di dalam sebuah grup usaha yang saya ikuti di Facebook. Ada salah satu member yang membuat thread mengenai seseorang diluar grup tersebut (sesama pedagang) -sebut saja A-, yang dianggap telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan bagi pelaku usaha lain (mohon maaf saya tidak bisa menyebutkan bentuk perbuatannya). Tadinya TS (thread starter) tidak mau menyebut siapa yang dia maksud, tapi pembicaraan berkembang hingga disebutlah satu nama dan kemudian member lain saling bersahutan membicarakan mengenai perilaku si A tersebut.

Qodarullah ada member grup yang “mengadukan” hal tersebut pada si A. Entah bagaimana caranya bercerita dan melaporkan kepada si A, hingga  terjadilah satu “perang terbuka”. Si A membawa-bawa nama grup tersebut dalam status FBnya dan berbalik “menyerang” grup tersebut. Sepertinya si A ini sakit hati sekali sehingga selama beberapa hari selalu mengungkit kejadian tersebut, Bahkan berakhir dengan acara blokir memblokir. Padahal teman-teman saya tersebut sama-sama tergabung dalam satu grup induk sesama pedagang yang notabene tadnya berteman baik.

Sungguh sangat disayangkan. Suatu pertemanan bisa hancur hanya karena dua hal, yaitu GHIBAH (bergunjing) dan NAMIMAH (adu domba).

Member grup secara bersama-sama melakukan kesalahan dengan berghibah mengenai si A.

Apa itu ghibah?

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya (Muslim no 2589)

Padahal sudah jelas ketentuan Allah mengenai hal ini.

“Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati, pasti kalian membencinya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih”. [Al Hujurat :12]

Dan untuk member yang mengadukan kepada si A, tanpa sadar dia telah melakukan NAMIMAH (adu domba).

Apa itu namimah? Continue reading

Ngrasani

Ngrasani alias bergunjing a.k.a ghibah pada umumnya merupakan hal yang tidak lepas dari keseharian kita. Hal inilah yang lumayan mengganggu saya di kantor. Sebagai new comer dan orang yang dianggap netral alias ngga berpihak sana sini seringkali saya diminta mendengarkan curhatan dari teman-teman seruangan saya, yang seringkali mengenai keburukan teman kantor yang lain. Biasanya siy ngomongin kinerjanya. Tanggapan saya biasanya cuma diem ato kalo bisa saya slimur ke pembicaraan lain. Kalo bisa ya ngasih solusi biar enak buat satu sama lain. Walopun terkadang saya keceplosan ngomong “o,iya tho?” dan dari kata “o iya tho” ini bisa berlanjut menjadi berpuluh rangkaian kata dari lawan bicara saya dan justru menambah luas area ghibah *astaghfirullah, smoga ke depannya bisa lebih ngerem lagi lisan saya :'(

Ya, mungkin ada kalanya kita ngga sadar kalo yang kita bicarakan itu termasuk ghibah. Ada hal yang kurang pas dikit pada diri orang lain langsung aja kita ngomongin di belakangnya, entah penampilan, sifat, fisik, kebiasaan, tingkah laku, dll. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan ghibah itu? kita perlu tahu biar bisa mengkoreksi diri (terutama saya) dan ngga sembarangan ketika berucap yang pada akhirnya dapat menjerumuskan kita pada perbuatan dosa.

Al Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dari shahabat Abu Hurairah ?, sesungguhnya Rasulullah ? bersabda: “Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian beliau ? bersabda:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ ، إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang dia membencinya, jika yang engkau sebutkan tadi benar-benar ada pada saudaramu sungguh engkau telah berbuat ghibah, sedangkan jika itu tidak benar maka engkau telah membuat kedustaan atasnya.”

Clear kan? Bahkan dalam Al Qur’an pun terdapat firman Allah yang memperjelas mengenai hal ini..

“Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing (ghibah) kepada sebagian yang lainnya. Apakah kalian suka salah seorang diantara kalian memakan daging saudaramu yang sudah mati? Maka tentulah kalian membencinya. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih.” (Al Hujurat: 12)

Demikianlah perumpamaan orang-orang yg bergunjing, yaitu bagai memakan daging saudaranya yang telah mati. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- mengenai hukuman bagi orang yang suka bergunjing di akhirat kelak

Dari shahabat Anas bin Malik ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:

لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَصُدُوْرَهُمْ ، فَقُلْتُ مَنْ هؤُلاَءِ يَاجِبْرِيْلُ؟ قَالَ : هؤُلاَءِ الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسِ وَيَقَعُوْنَ فِي أَعْرَاضِهِمْ

“Ketika aku mi’raj (naik di langit), aku melewati suatu kaum yang kuku-kukunya dari tembaga dalam keadaan mencakar wajah-wajah dan dada-dadanya. Lalu aku bertanya: “Siapakah mereka itu wahai malaikat Jibril?” Malaikat Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan merusak kehormatannya.” (H.R. Abu Dawud no. 4878 dan lainnya)

Na’udzubillahi mindzalik. Semoga Allah melindungi kita dari hal yang demikian, sehingga kita tidak masuk  ke dalam golongan orang yang bangkrut.

Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah.
Rasulullah bersabda. “ Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.

Lalu kapankah kita diperbolehkan untuk ghibah? menukil dari artikel ini :

Ibnu Katsir mengatakan: “Ghibah adalah haram secara ijma’ dan tidak dikecualikan (boleh dilakukan) melainkan (dalam hal yang) maslahatnya lebih kuat, seperti dalam jarh dan ta’dil (menerangkan perawi hadits) dan nasehat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ketika seseorang yang jahat meminta izin kepada beliau untuk bertemu beliau, maka beliau berkata: ‘Izinkan dia, sesungguhnya dia adalah orang yang paling jelek di kaumnya.’ Juga seperti sabda beliau kepada Fathimah binti Qais saat dipinang oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam mengabarkan) bahwa Mu’awiyah adalah orang yang sangat miskin dan Abu Jahm adalah orang yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/215)

Al-Imam An-Nawawi berkata: “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkah ghibah pada enam perkara:
1. Ketika terdzalimi (dianiaya).
2. Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
3. Meminta fatwa.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
5. Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
6. Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
(Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang diperbolehkan untuk Ghibah”)

Pertanyaan berikutnya, bagaimana cara bertaubat dari perbuatan ghibah? Apakah wajib baginya untuk memberi tahu kepada yang dighibahi? Kalo saya baca dari artikel ini, disebutkan bahwa..

Sebagian para ulama’ berpendapat wajib baginya untuk memberi tahu kepadanya dan meminta ma’af darinya. Pendapat ini ada sisi benarnya jika dikaitkan dengan hak seorang manusia. Misalnya mengambil harta orang lain tanpa alasan yang benar maka dia pun wajib mengembalikannya. Tetapi dari sisi lain, justru bila ia memberi tahu kepada yang dighibahi dikhawatirkan akan terjadi mudharat yang lebih besar. Bisa jadi orang yang dighibahi itu justru marah yang bisa meruncing pada percekcokan dan bahkan perkelahian. Oleh karena itu sebagian para ulama lainnya berpendapat tidak perlu ia memberi tahukan kepada yang dighibahi tapi wajib baginya beristighfar (memohan ampunan) kepada Allah ? dan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang yang dighibahi itu di tempat-tempat yang pernah ia berbuat ghibah kepadanya. Insyaallah pendapat terakhir lebih mendekati kebenaran. (Lihat Nashiihatii linnisaa’: 31)

Smoga hal ini bisa menjadi renungan bersama bagi kita (terutama saya donk donk donk :D ) agar lebih berhati-hati dalam menjaga lisan, Insya Allah.