Hati-Hati Rajah Terselubung!

Beberapa waktu lalu ketika mudik lebaran di Semarang, saya ziyaroh/ berkunjung ke rumah tante.

Ketika hendak berpamitan, mata saya tertuju pada pajangan dinding yang bentuknya tampak tidak asing, mirip dengan kepunyaan orangtua saya yang sudah lama dicopot, ketika suami saya mengetahui ada yang janggal pada pajangan tersebut.

Ketika saya mendekat, ternyata betul pola tulisannya mirip dengan kepunyaan orangtua saya.

Tante saya bilang kalau itu adalah pajangan bertuliskan asmaul husna, dibeli sudah lama ketika waktu itu anak pertamanya “kena sawan” sesudah adiknya meninggal.

Hmm.. begitupun dulu orangtua saya bilang, mereka mengira bahwa yang mereka miliki adalah pajangan dinding biasa bertuliskan asmaul husna.

Keluarga saya tidak menyadari bahwa yang dipajang itu adalah rajah (jimat yang berupa tulisan).

Agar lebih yakin lagi apakah itu betul rajah atau bukan, saya mengkonsultasikan gambar tersebut dengan seorang teman (yang suaminya adalah seorang ustadz). Beliau lalu bilang bahwa betul itu rajah dan harus segera dimusnahkan (dibakar) karena ketika dibaca oleh beliau isi pajangannya yaitu nama malaikat, asmaul husna, ayat, diacak-acak, kemudian tulisan Abu Bakar, Umar, dan Ali dibolak-balik. Continue reading

Advertisements

Ghibah Berjama’ah

“Diet yang paling susah yaitu diet makan daging saudaranya sendiri”

Suatu kalimat yang saya baca di wall FB seseorang. Kalimat sarkas tapi ada benarnya, terlebih di era saat ini dimana berjamur akun-akun ghibah yang notabene banyak followernya .

Cerita pengalaman pribadi, ketika melewati beranda FB seringkali saya temui status ataupun artikel berita yang membicarakan keburukan orang lain dan sesudah itu bermunculan pada kolom komentar olokan-olokan serta hinaan yang tidak sepatutnya pada orang yang diposting tersebut.

Saya belum paham dimana sisi menyenangkannya ketika kita membicarakan hal yang buruk tentang orang lain dan mengoloknya beramai-ramai.  Siapa sih kita kok teganya menghakimi massal? Padahal kita pun belum tentu lebih baik dari dia. Terlebih jika yang dikomentari adalah urusan pribadinya. Haduh, opo dewe ki turah-turah lambe dan turah-turah wektu sehingga sempat-sempatnya mencari-cari aib orang lain dan menyebarluaskannya.

Sepertinya sekarang ini media sosial kita sedang gandrung dengan ghibah berjama’ah. Terlebih dengan munculnya akun-akun medsos yang sarat dengan ghibah seperti yang saya sebutkan di awal. Saya pun pernah penasaran dengan akun yang ramai dibicarakan tersebut tapi tak lama saya unfollow karena ngga kuat dengan isi beritanya. Kebanyakan isine mung ngrasani, ya Allah tiba-tiba pening pala bebi. Pun waktu saya bisa habis dengan hal yang sia-sia apabila terus-terusan membacanya.

Kalau ada yang berkilah, “Tapi kan isi beritanya benar”. Hellow.. ghibah itu ya memang kemungkinan benar apa yang diberitakan, kalau tidak benar namanya fitnah. Continue reading

Cacat Produk? Katakan Saja

               sumber : risalahnet.wordpress.com

Pada bulan Februari saya pernah membuka pre-order payung kuwalik karena waktu itu saya memang sedang membutuhkan payung untuk di rumah. Saya buka pre-order karena butuh teman agar harga yang saya dapatkan di supplier lebih murah.

Qoddarullah ketika barang datang ada dua payung yang cacat produk, sedangkan barang sudah dibayar lunas oleh customer (saya menggunakan akad salam). Sebenarnya tidak begitu tampak juga cacatnya jika tidak diperhatikan, hanya tergores sedikit dan yang satunya bagian ujung payung kurang rapat.

Tadinya sempat perang batin “bilang-engga-bilang-engga”, karena saya khawatir bagaimana ya kalau pada ngga mau, rugi dong saya mana harganya lumayan mahal hiks..

Tapi alhamdulillah lintasan pikiran itu bisa saya tepis dan saya pun bertawakal sama Allah.. ya wis kalau pada ngga mau nanti cari customer lain yang sekiranya berminat dengan penjelasan bahwa barang ada cacat produk sedikit.

Perlu diketahui bahwa dalam syari’at Islam penjual dan pembeli ada hak khiyar yaitu memilih antara melanjutkan akad atau tidak.  Pada kasus ini yaitu adanya khiyar aib. Para ulama menetapkan adanya khiyar aib yakni hak khiyar yang disebabkan karena adanya cacat, walaupun cacat tersebut baru diketahui setelah sekian waktu. (lihat Syarhul Buyu’ hal. 102), sumber disini.

Hadits Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- tentang khiyar adalah sebagai berikut … Continue reading

Lunasi Pinjamanmu!

​Sebagai seorang pelaku usaha online dengan modal terbatas, maka untuk mendapatkan modal usaha saya menggunakan beberapa cara.

Berdasar pengalaman pribadi salah satu cara untuk menambah modal usaha yaitu dengan ikut arisan emak-emak, dimana ketika mendapat uang kocokan maka sepenuhnya uang yang didapat diputarkan untuk modal.

Cara yang lain yaitu dengan mengajukan pinjaman lunak ke suami (kalau suami sedang ada kelapangan rizki)
Walaupun pinjamnya ke suami, tapi saya in sya Allah tetap amanah (tidak bermudah-mudah), yaitu dengan menyegerakan pengembalian ketika sudah ada dananya di kantong zeatoys. Saya bilang “pinjam dalam jangka waktu sekian”, dan bersungguh-sungguh ingin melunasi hutang tersebut

Fyi, rekening terbagi dua, yang zeatoys menggunakan mandiri dan bca, sedangkan punya suami BNI dan BRI
Nah, ketika saya tidak ada pinjaman, jarang sekali customer yang transfer ke rek BRI/BNI punya suami. Tapi ketika saya ada pinjaman, qoddarulloh banyak customer yg transfer ke rekening tersebut, jadi sekalian buat bayar hutang. Yang terakhir bahkan dalam sebulan sudah lunas pinjaman saya dalam jumlah lumayan besar. Tapi kata suami suruh muterin lagi..ya wes manut hihi..

Disini saya memahami hakikat hadits ini..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkannya untuk melunasi hutang tersebut di dunia”. (HR. Ibnu Majah no. 2399 dan An Nasai no. 4686, shahih kecuali lafazh “fid dunya” -di dunia-)

Alhamdulillah dimudahkan Allah dalam pelunasan pinjaman modal ke suami.

Yuk mari yang masih mempunyai tanggungan hutang, niatkan dalam hati dengan sungguh-sungguh bahwa kita akan berusaha melunasi hutang tersebut dengan segera. In sya Allah pertolongan Allah akan datang dan dimudahkan untuk melunasi hutang tersebut.

Jangan sampai terbersit dalam hati kita meminjam tanpa ada niat mengembalikan..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410, hasan shahih)

Ingin termasuk yang disebutkan dalam hadits yang pertama atau kedua? Pilihan di tangan kita…

Sutrah yang Dilupakan

credit : thibbalummah.wordpress.com

         credit : thibbalummah.wordpress.com

Pada hari Minggu tanggal 17 Januari 2016 yang lalu, di masjid Arrahman Bantarjati Bogor dilaksanakan ta’lim yang diisi oleh ustadz Abdussyakur dari Ma’had Riyadhuljannah Cileungsi  dimana salah satu temanya membahas tentang sutrah dalam sholat.

Saya jadi teringat kejadian ketika pulang mudik ke Semarang bulan Desember tahun lalu. Ketika saya sedang melaksanakan sholat Maghrib di masjid stasiun Senen, ada seseorang yang hendak lewat persis di depan saya. Waktu itu posisi saya sedang berdiri. Secara spontan tangan kanan saya menepis mbak tersebut agar tidak lewat didepan saya. Mungkin apa yang saya lakukan mengagetkan dia, sudah siap-siap mau jalan lha kok tiba-tiba ditahan..

Nuwun sewu nggih mbak, bukannya saya ngga sopan, tapi sepemahaman saya itulah yang dituntunkan Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam. Lagipula saya sudah meletakkan sutrah/penghalang di depan saya berupa tas. Monggo kalau mbak mau lewat ya di depan tas tersebut, bukan dibelakangnya (antara saya dan tas tersebut).

Hal seperti ini kadangkala dilalaikan oleh kita sebagai seorang muslim, yaitu dengan seenaknya lewat sliwar sliwer didepan orang sholat, terutama ketika  berada di musholla umum. Mother yes please (mbok yao) sabar tunggu dulu, atau bisa lewat dibelakangnya, atau taruhlah sutrah didepan orang sholat tersebut sehingga kita dapat lewat. Jangan makbedunduk orang lagi ruku’, sujud tiba-tiba dilewati/dilompati didepannya. Terutama jika orang tersebut sholat sendiri, sedangkan jika dia berjama’ah, maka sutrah imam adalah sutrah makmum. Wallahu a’lam.

Sebenarnya apa sih sutrah itu? dinukil dari artikel  disini :

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Kemudian, apa saja benda-benda yang bisa dijadikan sutrah? Continue reading

Jangan Ada Dusta Diantara Canda

credit : aslibumiayu.wordpress.com

credit : aslibumiayu.wordpress.com

Dulu pernah ada suatu waktu dimana trending status/postingan di berbagai media online ber-hashtag #guemahgituorangnya. Saya baca di newsfeed facebook, berlomba-lomba beberapa teman di friendlist membuat status serupa. Banyak yang tersenyum bahkan tertawa dengan status itu (yang ditunjukkan dengan icon smile or laugh di bagian comment). Contoh dari status  tersebut, misalnya :

“Ngambil duit di atm, struknya diambil, duitnya dibuang. Gue mah gitu orangnya”

“Nemu duit dijalan, bukannya gue ambil, tapi gue tambahin. Gue mah gitu orangnya”

“Ngeliat temen ngga pernah mandi n sholat, ya udah gue mandiin trus sholatin. Gue mah gitu orangnya”

Lalu ada lagi trend penulisan dengan kata-kata :

#kibasrambut

#gigitsendal

#tutupmukapake panci

#lemparkulkas

Terlihat tidak ada masalah dengan status/postingan/kata-kata tersebut di atas. Niatnya hanya bercanda, ingin membuat orang-orang tertawa. Tapi benarkah hal yang demikian? Continue reading

Tukar Tambah Perhiasan Emas, Bolehkah?

Ini adalah hasil diskusi di salah satu grup whatsapp ummahat yang saya ikuti. Beberapa waktu lalu membahas mengenai boleh tidaknya tukar tambah perhiasan emas. Jazahallah khoiro Ummu Fathimah yang sudah memberikan link dan penjelasannya.

Hal ini penting sekali untuk diketahui, karena praktek di masyarakat masih berlangsung. Bahkan mungkin keluarga saya pun masih ada atau pernah melakukannya. Kasusnya adalah jika seseorang mempunyai perhiasan emas (misal anting) kemudian dia ingin menukar tambah anting tersebut di sebuah toko emas. Praktek yang biasanya terjadi, toko emas memperkirakan harga anting tersebut, kemudian pembeli memilih anting baru yang akan dia beli. Nah, disini pembeli membayarkan sejumlah uang selisih dari harga anting baru dan yang lama. Ternyata, hal tersebut tidak diperbolehkan pemirsa. Mengapa? simak penjelasannya berikut ini. Continue reading