Resep Bola-Bola Susu

Hari ini saya dan Khansa membuat bola-bola susu. Sebenarnya sudah lama dia request ingin membuat snack yang satu ini.

Tadinya Khansa membuat bola-bola susu di sekolah ketika kegiatan cooking class bersama guru dan teman-temannya di TKQ Anshorussunnah, kemudian dia minta dibuatkan lagi di rumah. Qoddarullah hari ini baru sempat. Yah, sambil isi waktu daripada  dia bombardir pesan whatsapp ke bapaknya terus untuk diminta pulang dari dinas hihi..

Bola-bola susu ini bahannya mudah didapat, cara membuatnya mudah, ngga perlu oven atau kukusan, cuma modal wajan saja untuk sangrai tepung. Pokoknya yang simple-simple saya suka hehe..

Tugas Khansa yang pertama yaitu membeli bahan-bahan kue di toko yang agak dekat dengan rumah kami. Dua kali dia bolak-balik karena yang pertama tepungnya kurang sehingga adonannya lengket, jadi dia kembali lagi untuk membeli tepung tapioka.

Ini dia bahan-bahan yang diperlukan (foto saya ambil dari file TKQ Anshorussunnah karena ngga sempat foto bahannya) :

Continue reading

Advertisements

Tips Mengajarkan Sholat pada Anak

Dulu ketika Khansa usia 2 tahunan, saya membelikannya mukena anak. Saya ingin memperkenalkan salah satu kewajiban umat Islam, yaitu sholat lima waktu. Dia suka sekali mengenakannya dan menirukan gerakan sholat yang saya lakukan. Di usia tersebut tentu saja sholat ala Khansa tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku… sak karepe dewe lah hihi..

Saat usia 4 tahun dan mulai TK, Khansa diperkenalkan dengan bacaan, gerakan sholat, dan juga jumlah rakaat yang secara benar. Alhamdulillah tata cara sholat Khansa sudah ada kemajuan dan in sya Allah setahap demi setahap mulai sesuai syari’at.

Akan tetapi yang membuat saya seringkali mengelus dada yaitu ketika dia diminta untuk sholat saat tiba waktunya adaaa aja alasannya. Entah main dulu atau alasannya yang lain. Malas-malasan lah pokoknya. Yah, saya pun berusaha memaklumi dan masih mentolerir karena memang dia belum terkena beban syari’at untuk sholat. Namun sebagai orangtua, tentu saja saya berkeinginan agar anak saya nantinya menjadi hamba Allah yang menjaga sholat hingga akhir hayatnya. Pertinyiinnyii… bagaimana caranya?

Ditengah “kegalauan” saya dengan sikap Khansa yang ogah-ogahan diajak sholat, saya qoddarullah membaca artikel copas-an di whatsapp mengenai seseorang yang mengunjungi keluarga temannya dan menemukan bahwa anak temannya tersebut tanpa disuruh mau untuk sholat. Ketika ditanyakan bagaimana caranya, ternyata temannya mendoakan anak-anaknya dengan doa yang terdapat dalam Al Qur’an yaitu surat Ibrohim ayat 40.

sumber : pinterest

                              sumber : pinterest

Maasya Allah.. artikel yang sangat menginspirasi. Saya lalu mempraktekkan doa tersebut. Dalam sujud saya berdoa agar menjadikan anak keturunan kami (hingga hari kiamat nanti) adalah orang-orang yang mendirikan sholat (dan ditambahkan doa agar ditetapkan dalam iman dan Islam sampai akhir hayat).

Tak lupa saya juga mengingatkan Khansa akan pentingnya sholat. Bukan dengan menakut-nakuti Khansa akan keberadaan neraka apabila dia tidak sholat, akan tetapi lebih menekankan agar dia bersyukur kepada Allah dengan melakukan sholat. Seringkali ketika pillow talk saya bilang kurang lebih seperti ini “Khansa lihat kan di jalan, ada anak-anak yang ngga punya rumah, ngga punya makanan. Sedangkan Khansa punya rumah jadi ngga kehujanan dan kepanasan, ada makanan dan minuman. Khansa harus bersyukur sama Allah sudah diberikan banyak rizki seperti itu. Caranya bersyukur bagaimana? dengan Khansa sholat”

Alhamdulillah ikhtiar saya melalui doa dan pemberitahuan secara berulang tentang cara bersyukur kepada Allah dengan sholat, bi idznillah (dengan izin Allah) membuahkan hasil.. Khansa perlahan mulai berubah. Dia menjadi anak yang semangat untuk sholat, bahkan di awal waktu. Saya pun malah sering diingatkan Khansa untuk sholat sesudah adzan berkumandang. Gantian dia yang ngoyak-ngoyak saya hehe..*kuwalik*. Alhamdulillah di usianya yang 5 tahun dia mulai rutin menjalankan sholat 5 waktu, bahkan Subuh pun dia bangun untuk menunaikan sholat walaupun terkadang sambil terkantuk-kantuk. Pernah beberapa kali dia bangun yaitu jam 2, jam 3 kemudian jam 5 untuk menanyakan apakah sudah saatnya sholat Subuh.. *semangat bingits*

Hal yang membuat saya terharu, ketika 3 hari yang lalu dia sakit demam dan mengeluh pusing, namun ketika tiba saatnya sholat dia kemudian ambil air wudhu dan tetap melaksanakan sholat. Mudah-mudahan istiqomah sampai akhir hayat ya nduk.

Mudah-mudahan sharing cerita saya bisa bermanfaat, karena ini berdasar dari pengalaman pribadi. Tips bagaimana agar anak mau menjalankan ibadah sholat, yaitu dengan mendoakan, menyemangati, serta satu hal penting yaitu memberi contoh. Akan tidak berarti jika kita koar-koar menyuruh anak sholat sedangkan kita sebagai orangtua malah melalaikan kewajiban tersebut. Actions speak louder than one thousand words.

Semoga anak keturunan kita adalah hamba Allah yang menunaikan sholat dan berpegang teguh pada tali agama Allah sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.

Menjadi Istri yang Qonaah

“Pa, kok hidup kita begini-begini aja ya? tetangga yang lain sudah punya mobil, kita mah motoran aja dari dulu.”

“Yah, ayah kok ngga dapat THR ya kayak yang lain. Kan ibu pengen beli baju baru sama mukena buat persiapan lebaran.”

“Pak, pengen ini.. pak, pengen itu..”

Apakah pernah kita bercakap seperti hal tersebut kepada suami? Saya pernah, tapi tidak seperti contoh yang pertama dan kedua.

Contohnya ketika awal tahun lalu saya bilang, “Bi, pengen beli sofa bed”. Itupun karena melihat sisi manfaat yang bisa diambil, yaitu buat tempat duduk orangtua ketika berkunjung ke rumah kami. Apalagi ibu saya sedikit bermasalah di bagian lutut, sehingga ketika duduk lesehan agak kesulitan ketika berdiri. Kemudian juga bisa menjadi tempat tidur tambahan ketika ada keluarga menginap dan kamarnya penuh. Saya pun patungan dengan zauji ketika membeli barang tersebut, dan saya tahu suami sedang ada rizki agak lebih dan in sya Allah memungkinkan untuk membelinya. Jadi bukan semata-mata “mung pengen

Tapi saya pernah mendengar ada yang berkata seperti yang saya contohkan di atas. Dia mengeluh karena suaminya kurang dalam memberikan nafkah. Apalagi ketika lebaran, tidak ada THR yang dia dapatkan. Sehingga untuk memenuhi tuntutan istrinya tersebut, si suami pun “meminta” kepada atasan-atasannya untuk mendapatkan tambahan uang. Wallahul musta’an, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Qona’ah (merasa cukup dan puas), sikap ini harus dimiliki oleh seorang istri. Tentu saja hal ini pun saya sendiri masih terus belajar untuk bisa bersikap qona’ah. Terkadang masih ingin ini dan itu (ingin perbaiki teras depan, ingin ngecat rumah, ingin perbaiki pagar hihi..kok banyak ya), tapi in sya Allah masih bisa ditahan hingga rizki mencukupi.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya” HR Muslim (no. 1054)

Terkadang karena keinginan seorang istri, maka suamipun mengambil jalan pintas, bahkan dengan jalan yang dilarang Allah, misalnya mencuri atau melalui pinjaman riba. Na’udzubillahi mindzalik. Continue reading

Jujurlah, Anakku

Ajarkan kepada anak kita untuk tidak mengambil barang yang bukan haknya. Ajarkan hal itu, sedini mungkin.

Kisah pertama,
Beberapa waktu lalu di toko kami, ada anak kecil yang mengambil salah satu mainan yang tergantung di tempat display. Waktu itu saudara saya yang sedang jaga di toko. Saudara saya pikir dia ambil untuk menunjukkan kepada ibunya yang sedang pesan makanan di warung sebelah.

Eh ternyata sesaat kemudian dia mau pulang dan mainan itu tetap dibawanya. Ketika saudara saya bilang ke ibunya kalau anaknya membawa mainan kami, ibunya menyanggah, dan anaknya hanya diam saja. Ketika ditunjukkan bukti bahwa ada mainan yang sama di toko kami, baru ibu itu percaya dan mengembalikannya kepada kami.

Kisah kedua,
Ketika saya sedang belanja sayur di pasar, tiba-tiba si penjual menegur dengan keras seorang ibu yang sedang belanja di samping saya. “Bu, itu ayamnya keluarkan dari tas! Ibu itu mau beli kacang merah atau mau beli ayam?!”. Kemudian kata ibu pembeli di sebelah saya, “Eh maap kebawa (sambil mengeluarkan satu ekor ayam dari tas belanjanya)”, kemudian berlalu dari lapak sayur itu. Weleh, iso-isone ki lho, kebawa kok gede banget tho buu.. ayam utuh sodara-sodara!

Mari sama-sama belajar dari kedua kisah di atas. Jika anak pada kisah pertama perilakunya tersebut dibiarkan dan tidak diajarkan kejujuran/tidak boleh mengambil barang yg bukan haknya sejak dini, bisa jadi dikemudian hari dia akan tumbuh menjadi seseorang yg tersebut pada kisah kedua ketika dewasa.

Anak tersebut mungkin akan menjadi seseorang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya, dia tidak merasa bersalah ketika merampas harta saudaranya, mencuri barang orang lain, atau merebut pasangan orang lain ‪#‎eh‬

Padahal sesuai firman Allah -subhanahu wata’ala- bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil yang bukan haknya, tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara yang buruk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, …” [an Nisaa/4 : 29].

Ajarkan mereka untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun, dimanapun. Bahwa jujur itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” Hadits Bukhâri (no. 6094)

Ajarkan mereka bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu, dan kelak di akhirat kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, termasuk mengenai harta kita, darimana didapatkan dan kemana dibelanjakan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.

Dengan mengajarkan anak point-point kejujuran di atas -tentunya disertai dengan doa kepada Allah memohon supaya anak kita dikaruniai akhlak yang baik- maka in sya Allah itu akan menjadi salah satu modal utamanya dalam mengarungi kehidupan.

Continue reading

Lecutan Penyemangat dari Pak Marhaban

credit : beginwiths.deviantart.com

credit : beginwiths.deviantart.com

Beberapa waktu yang lalu salah seorang ummahat di grup wa ta’lim Bogor share artikel Renungan untuk Ikhwan Lendah (edisi 22) yang ditulis oleh Ustadz Abu Nasim Mukhtar. Ketika membaca artikel tersebut, ada ummahat yang nyeletuk “Masyaa Allah cerita di atas, jadi teringat ummu Khonsa’.. yg tiap hari nganter Khonsa dari Bil***** ke TK”. Nah, qoddarulloh kemarin juga ada teman SMA saya yang share artikel yang sama ke saya kemudian berkomentar “Kuwi cocok nggo In*** (nama saya) semangatt!!”

Ya, artikel tersebut membahas tentang seorang bapak bernama Pak Marhaban. Beliau berdomisili di Samigaluh, kecamatan paling utara di Kabupaten Kulonprogo dengan relief perbukitan. Tiap hari dia mengantar anaknya ke sekolah di Ma’had Ar Ridho Sewon di Kabupaten Bantul yang berjarak 40-50 km dari tempat tinggalnya. Waktu tempuh sekali jalan adalah 1,5 jam, sedangkan beliau sesudah mengantar anaknya ke sekolah kemudian pulang lagi ke rumah dan menjemputnya kembali di siang hari. Jadi total 6 jam beliau habiskan dalam perjalanan pulang pergi setiap hari. Sudah berapa lama beliau jalankan aktivitas tersebut? selama 4 tahun pemirsah! Maasya Allah..

Malu aku malu..pada Pak Marhaban *hayah*, saya mah ngga ada apa-apanya dibanding perjuangan beliau. Tiap hari saya antar Khansa hanya 15 km, jalan yang dilalui mungkin tidak seliku-liku pak Marhaban yang tinggal di daerah perbukitan. Waktu tempuh sekali jalan ya kurang lebih hanya 40 menitan. Hmm.. In sya Allah sebenarnya bisa lebih cepat jika jalan Bojonggede yang tiap hari saya lalui ada perbaikan mengingat kondisi jalannya saat ini yah bisa dibilang sebagian besar hancur. Bahkan ada beritanya di media elektronik mengenai hal ini, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, padahal jaraknya dengan kantor Pemda Kabupaten hanya kurang lebih 8 km. Mudah-mudahan didengar oleh pemerintah Kabupaten Bogor dan segera ada perbaikan karena kondisinya sudah memprihatinkan. Terlebih jika hujan turun, suami pulang kantor basah kuyup, katanya seperti melewati arung jeram. Bukan lebay tapi memang begitulah adanya. Belum lagi sekarang yang menyusul kondisi jalannya memprihatinkan yaitu Jalan Pomad-Karadenan, hal ini menyebabkan waktu tempuh semakin panjang karena harus menghindari berbagai lubang yang cukup besar di jalan. Allahul musta’an. Continue reading

#Anak_mah_Gimana_Orangtuanya

parenting

                                     credit : http://www.corr.us

Dalam hal mendidik anak, tiap orangtua tentu mempunyai style yang berbeda-beda. Ada yang otoriter, anak tidak boleh ini itu, ada yang bersikap santai sehingga anaknya dibebaskan melakukan semua dan dituruti segala keinginannya tanpa batasan, dan ada yang bersikap pertengahan yaitu anak dibebaskan bertindak tapi diawasi dan diarahkan kedua orangtuanya. Silakan saja mau mengambil sikap yang mana dalam memperlakukan anak.

Saya teringat pada cerita seorang teman semasa di kantor dulu, ada salah satu teman kami (sebut saja A) yang anaknya hingga usia hampir 6 tahun kosakatanya masih sangat sedikit, cenderung pasif dengan lingkungan, dan seringkali tantrum ketika keinginannya tidak dituruti sehingga menyebabkan orangtuanya kemudian mengalah dan menuruti keinginan anaknya tersebut, walaupun mungkin hal itu kurang baik baginya. Anaknya ini suka banget nge-game, sehari-hari sebagian besar dilewatkan dengan gadget dan TV , ketika teman saya menasihati A untuk mengurangi jatah anaknya nge-game agar bisa berkomunikasi dan bersosialisasi lebih baik tapi tanggapan A dia bilang tidak bisa karena nanti anaknya pasti marah. Lho, piye iki..malah anaknya yang mengontrol orangtuanya. Tapi ya sudahlah, saya bukan orang yang berhak dan berkompeten untuk komentar lebih jauh.

Saya hanya akan menuliskan pengalaman pribadi saya mengenai anak.

Sudah sekitar 3 bulan ini Khansa tiap minggu selalu menunggu-nunggu datangnya hari Sabtu. Kenapa ya? hal ini karena hari Sabtu adalah jadwalnya boleh makan permen. Hampir tiap hari selalu bertanya, “Ummi, hari ini hari apa?”, kemudian sesudah saya jawab dia menghitung sendiri hari-hari menuju Sabtu.

Mengapa saya berlakukan one day a week for candy? Ya, karena melihat kondisi giginya agak memprihatinkan yaitu gripis dan ompong tiga gigi seri atasnya. Salah sayasebagai emaknya yang sebelumnya kurang memperhatikan kadar konsumsi permen Khansa. Dulu hampir tiap hari dia makan permen, dan ngga hanya satu per hari *maapkeun ummi ya nduk*. Kalau gosok gigi mah alhamdulillah rutin.

Lalu sekarang sesudah diberlakukan aturan seminggu hanya satu hari makan permen alhamdulillah dia bisa. Walaupun kadang dia berusaha nego dengan memelas “Ummi, hari ini boleh makan permen?”, tapi saya berusaha tetap tegas bahwa hanya Sabtu saja diperbolehkannya. Saya khawatir kalau sekali saja saya goyah, maka itu akan menjadi senjata dia dikemudian hari, “Lha, kemarin aja boleh makan permen ngga hari Sabtu”. Apalagi melihat kadar “kekritisan” Khansa dalam berbicara dan keahliannya membalikkan kata plus didukung kekuatan ingatannya. Pokokna bikin geleng-geleng kefala kalau dia sudah mulai criwis tanya ini itu. Kata ustadzahnya, bakat jadi wartawan. Saya menimpali, kasihan narasumbernya atuh ustadzah, pasti minta “Udahan ya mba jangan tanya-tanya lagi” haha.. ini mah pengalaman pribadi emaknya, lha habis kalau Khansa tanya pasti sampai detil sedetil-detilnya dan diulang-ulang.

Tadinya saya berpikir bisa ngga ya melalui the candy rule? Continue reading

Perawat Pribadi Ummi

credit : picterest.info

                           credit : picterest.info

Sekali-kali cerita ah tentang polah tingkah si genduk Khansa yang in sya Allah 6 Februari mendatang berusia 5 tahun hehe..

Sore tadi ketika adzan Asar ketika bangun tidur perut saya agak sakit. Melihat saya pegang perut, Khansa lalu menawarkan untuk mengolesi minyak tawon. Saya bilang, “Ummi sholat Asar dulu ya”

Sesudah sholat Khansa saya berbaring, kemudian genduk Khansa dengan sigap mengoleskan minyak tawon ke perut saya.

Sesudah itu dia menawarkan, “Ummi mau makan apa?”, saya jawab saja ingin bubur. Dia diam, karena tahu kalau ngga ada bubur di rumah (hihi..ummine ngerjani). Dia keluar kamar dan ketika kembali sudah membawa secangkir air putih dan kurma yang diletakkan di meja dekat saya. Gelasnya lalu diserahkan ke saya. Sesudah saya minum, diletakkannya kembali gelas tersebut di meja. Perawat teladan deh.

Kemudian dia tawarkan lagi, “Ummi minum susu ya?”. Saya gelengkan kepala. “Lho, susu kan sehat”. Lalu dia ambil susu di kulkas dan diminum sendiri sambil masih berusaha menawarkan ke saya, tapi saya tidak mau, “Buat Khansa aja”.

Sambil minum susu, dia duduk disamping saya sambil meluk kepala saya. Mbrebes mili langsung mata saya.. Jadi teringat bahwa siang tadi saya habis marahin Khansa karena dia tantrum teriak-teriak sambil nangis karena ingin ditemani di luar, sedangkan saya kurang enak badan dan mau tiduran di kamar.

Astaghfirullah, maafkan ummi ya nduk yang kurang sabar..  Kalo sudah begini rasanya menyesal banget, apalagi melihat perilaku sholihah genduk dalam merawat ibunya. Continue reading