Kampung Agro Krapyak Semarang

Suatu hari suami saya sedang membuka web kampung agro krapyak, yaitu salah satu kampung tematik yang ada di Semarang. Qoddarulloh yang terpilih menjadi kampung agro adalah tempat dimana saya tinggal dan dibesarkan yaitu wilayah Krapyak di kota kesayangan, Semarang.

Kemudian suami berkomentar kurang lebih begini, “Bener ngga sih sekarang gangnya jadi begini?”, sambil melihat gambar yang ada di web tersebut.

Naah.. untuk menuntaskan rasa penasaran suami, maka pada akhir Maret 2017 yang lalu ketika saya sedang menengok adik di Jogja kemudian lanjut pulkam ke Semarang (suami hanya mengantar sampai Jogja), saya fotokan kondisi terkini dari gang tempat tinggal kedua orangtua saya.

Niih paksu gambarnya.. maasya Allah yaa.. we see the power of eyangs here hihi.. Memang kebanyakan yang bermukim disini sekarang adalah eyang-eyang (termasuk kedua orangtua saya). Terdapat Gabungan Kelompok Tani (saat ini diketuai oleh ibu saya) yang mengkoordinir pelaksanaan dan penanaman di wilayah RW 7 Kelurahan Krapyak Semarang Barat sehingga menjadi asri seperti ini.

Thumbs up buat para eyang disana!

Lingkungan menjadi ijo royo-royo dan adem dipandang mata.

                      Kampung Agro Semarang

                      Kampung Agro Semarang

                Kampung Agro Krapyak Semarang

Niih.. pagar rumah orangtua saya, bahkan untuk memaksimalkan lahan yang ada maka pagarpun bisa menjadi tempat menanam sayur.. good idea buat yang lahannya terbatas yah..

Ingin berkunjung ke kampung tematik agro Semarang? monggoo.. langsung cuss ke kelurahan Krapyak, khususnya RW 7. Disana juga terdapat penjualan aneka bibit dan aneka tanaman.

Advertisements

The Lunpia’s Story

doc : hendradejhe.blogspot.com

Suatu hari suami mengabarkan dengan gembira, “Ummi, salah satu ekspedisi sedang promo, bisa order lunpia semarang dengan harga murah dan free ongkir, mau ngga?”. Waaah.. tanpa babibu saya iyakan tawaran suami. Kapan lagi saya bisa berkangen ria dengan salah satu makanan kampung halaman favorit saya dengan harga murmer, free ongkir lagi hihi.. *makirit*

Maklum yah, saya dari bayi sampai kuliah besar di Semarang, jadi yang namanya lunpia itu merupakan salah satu makanan yang sangat ikrib di lidah. Pernah mencoba merasakan lunpia di Bogor -kota dimana saya tinggal sekarang-,  tapi lain banget dengan lunpia Semarang, baik dari segi isi maupun rasa. Lunpia Bogor yang saya rasakan isinya tauge dan irisan bengkoang. Oleh karena bagi saya kurang cocok di lidah, akhirnya rela bersabar ria menunggu saat pulkam tiba dan merasakan lezatnya lunpia asli Semarang.

Untuk lunpia semarang sendiri, yang original itu isinya irisan rebung dengan variasi tambahan seperti telur, ayam, udang, atau lainnya. Paduan dari kulit lunpia yang krenyes dengan isian rebung yang empuk menimbulkan sensari rasa gurih manis, tambah lezat kalau dimakan anget-anget diceplusi cabe rawit atau dicocol sausnya. Mangstab tenan! Sekali makan bisa habis 2-3 lunpia.

Ketika pulang Semarang, banyak sekali ditemukan penjual lunpia. Salah satu yang paling terkenal yaitu Lunpia Mataram. Ternyata generasi ketiga dari Lunpia Mataram ini yaitu Cik Meme telah mendirikan satu tempat wiskul untuk penggemar lunpia bernama Lunpia Delight yang terletak di JL Gajahmada. Continue reading

Review : Kereta Fajar Utama Semarang

201220131745Minggu lalu kami pulang ke Semarang. Acaranya cukup mendadak dan tanpa sepengetahuan keluarga. Kami bertiga pulang karena waktu itu papa mau melakukan operasi kecil di kota Salatiga. Kami sudah dihubungi mama dan beliau bilang tidak usah pulang, tapi sebagai anak yang patuh pada orangtua, kami tetap pulang hehehe.. Mana tega membiarkan kedua orangtua kami hanya pergi berdua saja keluar kota, dalam keadaan papa kondisi kurang fit :'(

Kami pulang ke Semarang dari Cibinong, Bogor dengan menggunakan bis zentrum ekonomi AC (toilet dalam). Alhamdulillah mendapat tempat paling depan (belakang supir), jadi bisa leluasa melihat pemandangan depan, jarak dengan depan kami juga jadi lebih luas daripada kursi belakang. Harga tiket 100rb/orang.

Nah, yang akan saya review disini adalah moda transportasi yang kami gunakan ketika kembali lagi ke Jakarta yaitu kereta bisnis Fajar Utama. Tadinya saya sudah ogah-ogahan naik kereta Fajar Utama, karena membayangkan keretanya belum ber-ac, pastinya akan gerah, apalagi perjalanan siang hari. Kasihan Khansa tidak bisa istirahat di kereta, apalagi dia sedang dalam masa pemulihan dari sakit cacar. Tapi sesudah googling, sepertinya ada peluang bahwa kereta bisnis sudah ber-ac. Akhirnya zauji pergi ke stasiun dan membeli tiket 2 buah plus tiket anak (10% dari harga tiket). Ketika kami tanyakan ke petugas katanya sekarang semua kereta sudah ber-ac. Oleh karena kami membeli waktu weekend dan mepet dengan jadwal keberangkatan, jadi mendapat tiket yang harga agak mahal dari biasanya yaitu 200rb (range harga weekend 150rb-25orb). Continue reading

Liburaaaaann…

Ngga mau kalah dengan anak-anak sekolah yang sedang memasuki masa liburan usai terima rapor, saya sekeluarga juga berlibur bersama ke kampung halaman selama kurang lebih 10 hari. Jadwal utamanya siy menengok kakak yang habis melahirkan pada tanggal 16 Juni yang lalu, sekalian zauji mau ikut dauroh Masayikh di Jogja ^^

Sabtu tanggal 23 Juni 2012 kami berangkat ke Semarang dengan menggunakan kereta bisnis, Fajar Utama. Tadinya kami berniat berangkat jum’at malam tapi apa mau dikata kehabisan tiket, maklum sudah memasuki musim liburan plus berebut tiket dengan pekerja kantoran yang rumahnya di daerah (istilahnya pekerja PJKA = pulang jumat kembali ahad , karena Minggu harus sudah balik ke Jakarta).

Perjalanan menggunakan kereta bisnis ini adalah yang pertama kalinya untuk Khansa (bukan somse lho yaa.. kalau saya n zauji mah seriing, apalagi waktu saya masih single, kereta bisnis jadi andalan *maklum..pengiritan hehe..*). Pengennya sih naik yang eksekutif agar nyaman bagi Khansa, akan tetapiii karena menyesuaikan budget yang ada akhirnya kami memutuskan naik bisnis saja :D . Apalagi kata zauji kereta bisnis sekarang sudah mendingan dibanding dulu. Alhamdulillah sekarang sudah ngga ada yg pake tiket berdiri dan bergeletakan di lorong kereta. Kamar mandinya pun sudah bersih dan ngga jorok seperti dulu (airnya pun mengalir, noted).

Selama dalam perjalanan dari jam 8.35 s.d 14.30 genduk hanya tidur sekali dan hanya kurang lebih satu jam. Padahal kalo di rumah bisa 2 jam bobok, itupun dua kali. Ya, mungkin karena hawa yang agak gerah karena kipas angin kereta ngga menyala, sedangkan kami lupa sedia kipas sebelum sumuk.

Selama tidak tidur dia maunya jalan-jalan di lorong kereta, kemudian ndepipis di luar pintu (dekat kamar mandi), karena di situ anginnya cukup semilir. Walhasil zauji yang sibuk melayani request jalan-jalan Khansa.

Setelah sampai di Semarang, kami dijemput adik saya dan suaminya dan langsung njujug di rumah saya. Qodarullah sore itu tukang pecel langganan dari semasa saya kecil lewat, akhirnya bersama-sama kami menikmati pecel. Sedangkan saya memesan makanan kaporit saya yaitu petis kangkung, pake mie, diirisi gembus..maknyusss.. Continue reading