Panggilan Jiwa Itu di Rumah

Alhamdulillah paska resign dari kantor sudah memasuki hampir bulan ketiga -insya Allah-.. dan sampai saat ini selalu mensyukuri keputusan yang sudah saya ambil beberapa waktu lalu tersebut :)

Bersyukur karena waktu anak sakit saya bisa full konsentrasi di rumah, mencurahkan waktu merawatnya tanpa perlu mendengar deringan telpon dari kantor yang menanyakan masalah pekerjaan

Bersyukur bisa mengetahui perkembangan anak waktu demi waktu, sekecil apapun progress yang sudah dia peroleh, baik perkembangan dalam perkataan maupun perbuatannya

Bersyukur bisa lebih maksimal dalam menstimulasi perkembangannya agar menjadi lebih baik setahap demi setahap, insya Allah

Bersyukur apabilaterserang kantuk di siang hari bisa istirahat bersama Khansa tanpa harus curi waktu di mushola ataupun tertunduk di meja komputer kantor :D

Tentu saja ada beberapa penyesuaian, salah satunya mengenai masalah finansial. Maklum, selama 6 tahun bekerja -alhamdulillah- berada di zona nyaman (secara materi). Sehingga sesudah resign tentu saja ada beberapa hal yang perlu di-adjust, terutama mengenai pengeluaran. Alhamdulillah sudah mulai mengurangi jajan yang ngga perlu. Ya, sesekali beli siomay kalo pas ada rizki boleh saja :) . Intinya ada pada diri masing-masing. Selama kita enjoy, berusaha menikmati, dan berusaha hidup apa adanya insya Allah we’re gonna be fine ^^

Satu hal yang ingin saya garis bawahi (bahasane nota dinas bangettt xixxii) yaitu adanya komentar beberapa teman dan saudara saya setelah mengetahui saya resign. Apa komentar mereka?kurang lebih seperti ini..

“Salut **** (sebut nama), pengen banget kaya kamu, tapi saat ini belum bisa”

Ya, komentar bernada sama diucapkan tidak hanya satu, tapi beberapa orang teman saya yang saat ini masih bekerja. Fenomena apakah iniiii? *jangan lebay donk ah* Continue reading

Malu..

Sudah beberapa bulan terakhir sama sekali ngga pernah ikut kajian. Dulu pas hamil karena trimester awal sering mual dan muntah, sedangkan trimester berikutnya karena badan udah mulai terasa berat dan mudah capek (*halah, alesan aja..). Kalo sekarang,  Khansa sepertinya masih terlalu kecil untuk dibawa  bermotor ria ikut kajian di Bogor atau Jakarta. Selama ini ruhaniyah hanya tersiram sedikit dari membaca majalah asysyariah atau akhwat, browsing artikel, baca buku yang ada di rumah, atau hasil ngobrol dengan zauji usai zauji ikut kajian.

Kemarin browsing lagi artikel-artikel islamy. Ya.. pengen aja ruhaniyah ini terisi walaupun sedikit-sedikit, apalagi sampai sekarang saya masih nifas.. biar ngga sama sekali kosong karena belum bisa ibadah dengan maksimal.  Mampir di blog ummu rofiif.. tertohok dengan artikel tentang iman. Bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang. Sesuatu yang sudah saya ketahui sebelumnya, tapi dengan membaca kembali artikel tersebut mengingatkan saya kembali akan hal itu.

Iman itu bisa berkurang dan bahkan bisa tidak tersisa sedikitpun daripadanya disebabkan oleh maksiat. Kadang-kadang seseorang menganggap remeh, menganggap pelanggaran-pelanggaran yang bisa mengurangi iman seseorang itu adalah pelanggaran- pelanggaran dalam bidang aqidah. Padahal  pelanggaran-pelanggaran dalam bidang akhlak, mu’amalah, dan lain-lain juga bisa mengurangi keimanan.

Dari nukilan artikel itu cukup membuat saya merenung mengenai kadar keimanan saya saat ini :(( , dan juga memotivasi saya untuk meningkatkannya, Insya Allah. Teman saya -ummu arsa- yang sudah berputra dua aja masih sempet ikut kelas tahfidz, ada lagi ummu Aisyah dengan kedua putrinya yang ikut kelas Bahasa Arab. Juga para ummahat lain yang masih sempat ikut kajian, hafalan, sambil mengurus buah hati dan rumah tangga mereka. Astaghfirullah.. betapa saya malu karena tertinggal jauh dengan mereka T_T

Hari ini ketika browsing, lebih diingatkan lagi dengan adanya artikel dari ukhty Alia di sini yang berjudul “Kesabaran dan kasih Sayang Seorang Istri/Ibu yang Shalihah”.

Subhanallah.. begitu bermakna cerita wanita tersebut, sehingga bisa menimbulkan motivasi bagi yang membaca untuk menjadi seorang istri/ibu/hamba Allah yang lebih baik lagi *selain menimbulkan tetesan air mata dan rasa malu bila membandingkan kualitas pribadi saya dengan dia :'(( *

Berikut saya copas artikel tersebut di sini (dan juga di FB saya), terutama sebagai pengingat bagi diri saya pribadi. Jazaahallahu khoiron kepada ukhty Alia atas postingannya ^_^

**********

Kesabaran dan Kasih Sayang Seorang Istri/Ibu yang Shalihah

 

Oleh : Ummu ‘Abdillah Bintu Daniel

 

Prof. Dr. Khalid al-Jubair penasehat spesialis bedah jantung dan urat nadi di rumah sakit al-Malik Khalid di Riyadh mengisahkan sebuah kisah pada sebuah seminar dengan tajuk Asbab Mansiah (Sebab-Sebab Yang Terlupakan). Mari sejenak kita merenung bersama, karena dalam kisah tersebut ada nasihat dan pelajaran yang sangat berharga bagi kita.

Sang dokter berkata: Pada suatu hari -hari Selasa- aku melakukan operasi pada seorang anak berusia 2,5 tahun. Pada hari Rabu, anak tersebut berada di ruang ICU dalam keadaan segar dan sehat. Pada hari Kamis pukul 11:15 -aku tidak melupakan waktu ini karena pentingnya kejadian tersebut- tiba-tiba salah seorang perawat mengabariku bahwa jantung dan pernafasan anak tersebut berhenti bekerja. Maka akupun pergi dengan cepat kepada anak tersebut, kemudian aku lakukan proses kejut jantung yang berlangsung selama 45 menit. Selama itu jantungnya tidak berfungsi, namun setelah itu Allah Subhanaahu wa Ta’ala menentukan agar jantungnya kembali berfungsi. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala .

Kemudian aku pergi untuk mengabarkan keadaannya kepada keluarganya, sebagaimana anda ketahui betapa sulit mengabarkan keadaan kepada keluarganya jika ternyata keadaannya buruk. Ini adalah hal tersulit yang harus dihadapi oleh seorang dokter. Akan tetapi ini adalah sebuah keharusan. Akupun bertanya tentang ayah si anak, tapi aku tidak mendapatinya. Aku hanya mendapati ibunya, lalu aku katakan kepadanya: “Penyebab berhentinya jantung putramu dari fungsinya adalah akibat pendarahan yang ada pada pangkal tenggorokan dan kami tidak mengetahui penyebabnya. Aku kira otaknya telah mati.”

Coba tebak, kira-kira apa jawaban ibu tersebut?

Apakah dia berteriak? Apakah dia histeris? Apakah dia berkata: “Engkaulah penyebabnya!” Dia tidak berbicara apapun dari semua itu bahkan dia berkata: “Alhamdulillah.” Kemudian dia meninggalkanku dan pergi.

Sepuluh hari berlalu, mulailah sang anak bergerak-gerak. Kamipun memuji Allah Subhanaahu wa Ta’ala serta menyampaikan kabar gembira sebuah kebaikan yaitu bahwa keadaan otaknya telah berfungsi.

Pada hari ke-12, jantungnya kembali berhenti bekerja disebabkan oleh pendarahan tersebut. Kami pun melakukan proses kejut jantung selama 45 menit, dan jantungnya tidak bergerak. Maka akupun mengatakan kepada ibunya: “Kali ini menurutku tidak ada harapan lagi.” Maka dia berkata: “Alhamdulillah, ya Allah jika dalam kesembuhannya ada kebaikan, maka sembuhkanlah dia wahai Rabbi.”

Maka dengan memuji Allah, jantungnya kembali berfungsi, akan tetapi setelah itu jantung kembali berhenti sampai 6 kali hingga dengan ketentuan Allah Subhanaahu wa Ta’ala spesialis THT berhasil menghentikan pendarahan tersebut, dan jantungnya kembali berfungsi. Berlalulah sekarang 3,5 bulan, dan anak tersebut dalam keadaan koma, tidak bergerak.

Kemudian setiap kali dia mulai bergerak dia terkena semacam pembengkakan bernanah aneh yang besar di kepalanya, yang aku belum pernah melihat semisalnya. Maka kami katakan kepada sang ibu bahwa putra anda akan meninggal. Jika dia bisa selamat dari kegagalan jantung yang berulang-ulang, maka dia tidak akan bisa selamat dengan adanya semacam pembengkakan di kepalanya. Maka sang ibu berkata: “Alhamdilillah.” Kemudian meninggalkanku dan pergi. Setelah itu, kami melakukan usaha untuk merubah keadaan segera dengan melakukan operasi otak dan urat syaraf serta berusaha untuk menyembuhkan sang anak. Tiga minggu kemudian, dengan karunia Allah Subhanaahu wa Ta’ala , dia tersembuhkan dari pembengkakan tersebut, akan tetapi dia belum bergerak.

Dua minggu kemudian, darahnya terkena racun aneh yang menjadikan suhunya 41,2oC. maka kukatakan kepada sang ibu: “Sesungguhnya otak putra ibu berada dalam bahaya besar, saya kira tidak ada harapan sembuh.” Maka dia berkata dengan penuh kesabaran dan keyakinan: “Alhamdulillah, ya Allah, jika pada kesembuhannya terdapat kebaikan, maka sembuhkanlah dia.”

Setelah aku kabarkan kepada ibu anak tersebut tentang keadaan putranya yang terbaring di atas ranjang nomor 5, aku pergi ke pasien lain yang terbaring di ranjang nomor 6 untuk menganalisanya. Tiba-tiba ibu pasien nomor 6 tersebut menangis histeris seraya berkata: “Wahai dokter, kemari, wahai dokter suhu badannya 37,6o, dia akan mati, dia akan mati.” Maka kukatakan kepadanya dengan penuh heran: “Lihatlah ibu anak yang terbaring di ranjang no 5, suhu badannya 41o lebih sementara dia bersabar dan memuji Allah.” Maka berkatalah ibu pasien no. 6 tentang ibu tersebut: “Wanita itu tidak waras dan tidak sadar.”  Maka aku mengingat sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang indah lagi agung:

(طُوْبَى لِلْغُرَبَاِء) “Beruntunglah orang-orang yang asing.”

Sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata, akan tetapi keduanya menggoncangkan ummat. Selama 23 tahun bekerja di rumah sakit aku belum pernah melihat dalam hidupku orang sabar seperti ibu ini kecuali dua orang saja.

Selang beberapa waktu setelah itu ia mengalami gagal ginjal, maka kami katakan kepada sang ibu: “Tidak ada harapan kali ini, dia tidak akan selamat.” Maka dia menjawab dengan sabar dan bertawakkal kepada Allah: “Alhamdulillah.” Seraya meninggalkanku seperti biasa dan pergi.

Sekarang kami memasuki minggu terakhir dari bulan keempat, dan anak tersebut telah tersembuhkan dari keracunan. Kemudian saat memasuki pada bulan kelima, dia terserang penyakit aneh yang aku belum pernah melihatnya selama hidupku, radang ganas pada selaput pembungkus jantung di sekitar dada yang mencakup tulang-tulang dada dan seluruh daerah di sekitarnya. Dimana keadaan ini memaksaku untuk membuka dadanya dan terpaaksa menjadikan jantungnya dalam keadaan terbuka. Sekiranya kami mengganti alat bantu, anda akan melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda..

Saat kondisi anak tersebut sampai pada tingkatan ini aku berkata kepada sang ibu: “Sudah, yang ini tidak mungkin disembuhkan lagi, aku tidak berharap. Keadaannya semakin gawat.” Diapun berkata: “Alhamdulillah.” Sebagaimana kebiasaannya, tanpa berkata apapun selainnya.

Kemudian berlalulah 6,5 bulan, anak tersebut keluar dari ruang operasi dalam keadaan tidak berbicara, melihat, mendengar, bergerak dan tertawa. Sementara dadanya dalam keadaan terbuka yang memungkinkan bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda, dan ibunyalah yang membantu mengganti alat-alat bantu di jantung putranya dengan penuh sabar dan berharap pahala.

Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?

Sebelum kukabarkan kepada anda, apakah yang anda kira dari keselamatan anak tersebut yang telah melalui segala macam ujian berat, hal gawat, rasa sakit dan beberapa penyakit yang aneh dan kompleks? Menurut anda kira-kira apa yang akan dilakukan oleh sang ibu yang sabar terhadap sang putra di hadapannya yang berada di ambang kubur itu? Kondisi yang dia tidak punya kuasa apa-apa kecuali hanya berdo’a, dan merendahkan diri kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala ?

Tahukah anda apa yang terjadi terhadap anak yang mungkin bagi anda untuk melihat jantungnya berdenyut di hadapan anda 2,5 bulan kemudian?

Anak tersebut telah sembuh sempurna dengan rahmat Allah Subhanaahu wa Ta’ala sebagai balasan bagi sang ibu yang shalihah tersebut. Sekarang anak tersebut telah berlari dan dapat menyalip ibunya dengan kedua kakinya, seakan-akan tidak ada sesuatupun yang pernah menimpanya. Dia telah kembali seperti sedia kala, dalam keadaan sembuh dan sehat. Kisah ini tidaklah berhenti sampai di sini, apa yang membuatku menangis bukanlah ini, yang membuatku menangis adalah apa yang terjadi kemudian:

Satu setengah tahun setelah anak tersebut keluar dari rumah sakit, salah seorang kawan di bagian operasi mengabarkan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki berserta istri bersama dua orang anak ingin melihat anda. Maka kukatakan kepadanya: “Siapakah mereka?” Dia menjawab, “tidak mengenal mereka.”

Akupun pergi untuk melihat mereka, ternyata mereka adalah ayah dan ibu dari anak yang dulu kami operasi. Umurnya sekarang 5 tahun seperti bunga dalam keadaan sehat, seakan-akan tidak pernah terkena apapun, dan juga bersama mereka seorang bayi berumur 4 bulan. Aku menyambut mereka, dan bertanya kepada sang ayah dengan canda tentang bayi baru yang digendong oleh ibunya, apakah dia anak yang ke-13 atau 14? Diapun melihat kepadaku dengan senyuman aneh, kemudian dia berkata: “Ini adalah anak yang kedua, sedang anak pertama adalah anak yang dulu anda operasi, dia adalah anak pertama yang datang kepada kami setelah 17 tahun mandul. Setelah kami diberi rizki dengannya, dia tertimpa penyakit seperti yang telah anda ketahui sendiri.”

Aku tidak mampu menguasai jiwaku, kedua mataku penuh dengan air mata. Tanpa sadar aku menyeret laki-laki tersebut dengan tangannya kemudian aku masukkan ke dalam ruanganku dan bertanya tentang istrinya. Kukatakan kepadanya: “Siapakah istrimu yang mampu bersabar dengan penuh kesabaran atas putranya yang baru datang setelah 17 tahun mandul? Haruslah hatinya bukan hati yang gersang, bahkan hati yang subur dengan keimanan terhadap Allah Subhanaahu wa Ta’ala .”

Tahukah anda apa yang dia katakan?

……..Apakah anda tahu apa yang terjadi setelah itu?

Diamlah bersamaku wahai saudara-saudariku, terutama kepada anda wahai saudari-saudari yang mulia, cukuplah anda bisa berbangga pada zaman ini ada seorang wanita muslimah yang seperti dia.

Sang suami berkata: “Aku menikahi wanita tersebut 19 tahun yang lalu, sejak masa itu dia tidak pernah meninggalkan shalat malam kecuali dengan udzur syar’i. Aku tidak pernah menyaksikannya berghibah (menggunjing), namimah (adu domba), tidak juga dusta. Jika aku keluar dari rumah atau aku pulang ke rumah, dia membukakan pintu untukku, mendo’akanku, menyambutku, serta melakukan tugas-tugasnya dengan segenap kecintaan, tanggung jawab, akhlak dan kasih sayang.”

Sang suami menyempurnakan ceritanya dengan berkata: “Wahai dokter, dengan segenap akhlak dan kasih sayang yang dia berikan kepadaku, aku tidak mampu untuk membuka satu mataku terhadapnya karena malu.” Maka kukatakan kepadanya: “Wanita seperti dia berhak mendapatkan perlakuan darimu seperti itu.” Kisah selesai.

Kukatakan:

Saudara-saudariku, kadang anda terheran-heran dengan kisah tersebut, yaitu terheran-heran terhadap kesabaran wanita tersebut, akan tetapi ketahuilah bahwa beriman kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala dengan segenap keimanan dan tawakkal kepada-Nya dengan sepenuhnya, serta beramal shalih adalah perkara yang mengokohkan seorang muslim saat dalam kesusahan, dan ujian. Kesabaran yang demikian adalah sebuah taufik dan rahmat dari Allah Subhanaahu wa Ta’ala .

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥)الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦)أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَحُزْنٍ وَلاَ أَذىً وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا خَطاَيَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim dari keletihan, sakit, kecemasan, kesedihan tidak juga gangguan dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya, kecuali dengannya Allah Subhanaahu wa Ta’ala akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. al-Bukhari (5/2137))

Maka, wahai saudara-saudariku, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala , minta dan berdo’alah hanya kepada Allah Subhanaahu wa Ta’ala terhadap berbagai kebutuhan anda sekalian.

Bersandarlah kepada-Nya dalam keadaan senang dan susah. Sesungguhnya Dia Subhanaahu wa Ta’ala adalah sebaik-baik pelindung dan penolong.

Mudah-mudahan Allah Subhanaahu wa Ta’ala membalas anda sekalian dengan kebaikan, serta janganlah melupakan kami dari do’a-do’a kalian.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦)

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu).” (QS. Al-A’raf: 126)j

 

Sumber : http://aruhuriyya.wordpress.com/2010/10/30/kesabaran-dan-kasih-sayang-seorang-istriibu-yang-shalihah/

Khitan Bagi Anak Perempuan

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada Ummu ‘Athiyah radiyallahu ‘anha (seorang wanita juru khitan) :
أُخْفُضِي وَلَا تُنْهِكِي فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ أَحْضَى لِلْزَوْجِ
“Khitanlah (anak-anak perempuan), tetapi jangan dipotong habis! Karena sesungguhnya khitan itu membuat wajah lebih berseri dan membuat suami lebih menyukainya”.
Hadits Shahih, dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud (5271), Imam Al Hakim (3/525), Imam Ibnu ‘Adi di dalam AL Kamil (3/1083) dan Imam Al Khatib didalam Tarikhnya (12/291).

Sesuai dengan dalil di atas, maka pada hari Sabtu 5 Februari 2011 yang lalu kami bawa Khansa ke bidan setempat untuk melakukan khitan. Alhamdulillah bidan tersebut bersedia, walopun sebelumnya beliau juga mengutarakan perihal pelarangan khitan di dunia medis sebagai bahan pertimbangan kami. Oleh karena kami berpegang pada tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- maka kami Insya Allah merasa yakin untuk melakukannya. Na’am kami yakin bahwa tuntunan Rasul Insya Allah membawa berkah kebaikan. Kami hanya menanyakan cara khitan yang dilakukan bidan tersebut, dan setelah mendapat penjelasan dari beliau dan kami pandang sudah sesuai dengan sunnah yaitu tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit dalam memotong,  maka khitan pun dilakukan. Alhamdulillah Khansa ketika dikhitan hanya menangis sebentar, setelah dineneni dia tidur lagi ^^

Bab mengenai hukum khitan pada wanita selengkapnya bisa dibaca di sini dan sini.

Wanita.. antara Surga dan Neraka

Setelah baca-baca artikel, terpaku pada satu hadits yang sebelumnya sudah pernah saya baca..

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wasallam telah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan di shahihkan oleh Al-Albani:

“Bila seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulan Ramadhan dan memelihara kemaluannya serta taat kepada suaminya, maka kelak dikatakan kepadanya: “masuklah dari pintu surga mana saja yang engkau inginkan.”

Na’am.. betapa Allah telah memberikan jalan yang lapang bagi wanita untuk dapat memasuki surga. Akan tetapi mengapa mayoritas penghuni neraka adalah wanita? rupanya inilah salah satu penyebabnya, sperti yang saya kutip dari satu hadits :

Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang , beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam melihat Surga dan neraka.
Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : “ … dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam?” Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Hmmm… betapa kontrasnya dua hadits di atas.

Hadits pertama memberikan pengharapan akan jalan bagi kita untuk meraih surga salah satunya melalui ketaatan pada suami, sedangkan pada hadits kedua berupa peringatan kepada kita akan ancaman neraka bila kufur terhadap suami.

Smoga Allah memberkahi kita termasuk pada golongan wanita pada hadits pertama, dan terhindar dari golongan pada hadits kedua.. wallahul musta’an..

Ps : ini dia link dari dua artikel yang saya baca, yaitu Istri Shalihah Penyejuk Hati dan Wanita Penghuni Neraka

Safar ke Bandung

Keinginan zauji dan saya untuk mengamalkan sunnah diuji. Kali ini datang (untuk ke sekian kalinya) dari kantor saya.

Hari senin yang lalu (1 Maret 2009) saya ditugaskan kantor untuk mengikuti rapat di Bandung. Beberapa hari sebelumnya saya sudah berusaha minta atasan untuk menugaskan teman menggantikan saya. Tapi atasan menolak, dengan alasan rapat ini adalah bagian dari tanggung jawab saya. Ya sudah, akhirnya saya berdiskusi dengan zauji bagaimana mengatasi hal ini, karena sesuai ketentuan syariat tentang safar bagi muslimah, maka harus ada mahram yang menemani saya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Janganlah wanita melakukan safar selama 3 hari kecuali bersama mahramnya.” (Hadits shahih, dikeluarkan oleh Bukhari 2/54, Muslim 9/106, Ahmad 3/7, dan Abu Dawud 1727)

“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (bepergian) selama satu hari satu malam yang tidak disertai mahramnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : “Janganlah seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya dan janganlah seorang laki-laki masuk menjumpainya kecuali disertai mahramnya.” Kemudian seseorang bertanya : “Wahai Rasulullah ! Sungguh aku ingin keluar bersama pasukan ini dan itu sedangkan istriku ingin menunaikan haji.” Maka bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam : “Keluarlah bersama istrimu (menunaikan haji).” (Dikeluarkan hadits ini oleh Muslim dan Ahmad)

Oleh karena ngga mungkin meminta abi ato mahram saya yang lain untuk menemani, akhirnya zauji mengantar jemput saya untuk dinas tersebut.  Saya kasihan juga dengan zauji, pasti capek karena bolak balik Cibinong-Bandung. Senin malam mengantar saya ke Bandung, pagi harinya (selasa jam 5.30) sudah kembali lagi ke Cibinong untuk pergi ke kantor. Kemudian sore harinya zauji pergi lagi ke Bandung untuk menjemput saya. Kami menginap satu malam lagi dan kembali bersama-sama ke Cibinong pada rabu pagi.

Ini adalah usaha minimal yang bisa kami lakukan saat ini dalam mengamalkan tuntunan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wassalam- . Kami sadar bahwa hal ini belumlah cukup, masih jauh dan tidak sepadan dengan perjuangan dan pengorbanan salafush shalih, atau bahkan saudara-saudara kami yang lain dalam menegakkan sunnah. Insya Allah, kami akan berusaha selangkah demi selangkah, semakin mendekati tuntunan Allah dan Rasulullah -sholallahu ‘alaihi wassalam- , dan hanya kepada Allah-lah kami mohon ampun atas segala dosa dan kesalahan kami.

وعن بن عمررضى اللّه عنهماعن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : كلّكم راع وكلّكم مسءول عن رعيّته ، والأميرراع ، والرّجل راع على أهل بيته ، والمرأةراعيّةعلى بيت زوجهاوولده ، فكلّكم راع وكلّكم مسءول عن رعيّته (متفق عليه)٠

Dari Ibnu Umar Radhiallahu’anhu, dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, “Kalian adalah pemimpin dan kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian. Seorang penguasa adalah pemimpin, seorang suami adalah seorang pemimpin seluruh keluarganya, demikian pula seorang isteri adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya. Kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Uhibbuka fillah zauji.. suatu kalimat yang takkan bosan saya ucapkan untuknya ^^