Teruslah Bergerak dalam Panggung yang Sederhana

Kelulusan TK

#latepost

Ini adalah panggung sederhana yang dibuat oleh pengurus TK Anshorussunnah, ketika acara kelulusan dan pembagian raport anak-anak pada tanggal 19 Juni 2016 yang lalu.

doc pribadi TK Anshorussunnah

doc pribadi TK Anshorussunnah

Ya, ini bukanlah panggung megah pada umumnya yang penuh dengan dekorasi warna warni. Ini hanyalah panggung sederhana, yang dibuat dari susunan meja-meja yang selama ini untuk sarana belajar anak.

Tapi walaupun sederhana, anak-anak tampak senang melihat panggung tersebut. Hiasan dekor balon, kertas krep dan pita cukup membuat mereka bahagia. Tak sabar menunggu giliran untuk naik ke atasnya.

Pun apa yang mereka pentaskan bukanlah tarian dan nyanyian, jauh dari hingar bingar suara musik dan lagu. Pentas mereka pun sederhana. Bersama-sama membaca beberapa surat dalam Al Qur’an yang sudah mereka hafal, beberapa hadits arba’in, praktek wudhu dan Bahasa Arab (hafalan mufrodat).

Teruslah bergerak anak-anakku sayang, walaupun dalam panggung yang sederhana. Yang terpenting adalah adab dan akhlakmu, dan bagaimana engkau memahami serta mengamalkan Al Qu’ran dan Assunnah.

Sekolah kita masih sederhana, mainanpun apa adanya. Tapi semangat kalian untuk belajar dengan menyesuaikan usia kalian, itu adalah salah satu berkah dan karunia dari Allah. Tanam dan pupuklah semangat dan kecintaan untuk menuntut ilmu, terlebih ilmu agama yang akan menjadi pegangan kalian dalam mengarungi hidup.

Teruslah bergerak dalam nafas Islam, dengan berdasar Al Qur’an dan Assunnah.

 

Cerita Ramadan Khansa

surat ibrahim 40

Ramadan tahun 2016 ini alhamdulillah Khansa (5 tahun) banyak perubahan lebih baik dari tahun sebelumnya baik dari segi ibadah puasa, baca Al Qur’an maupun sholatnya. Semoga terus meningkat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun berikutnya  *aamiin, in sya Allah*.

Tidak ada reward yang kami iming-imingkan ke Khansa, saya dan suami hanya bilang beberapa hari sebelum puasa bahwa in sya Allah sebentar lagi bulan Ramadan, semua in sya Allah berpuasa, Khansa ikut juga berpuasa ya. Bulan Ramadan nanti pahalanya akan ditambah sama Allah, jadi banyak-banyak beribadah. Alhamdulillah dia bersemangat untuk ikut.

Mengapa sejak dini kami mengenalkan Khansa untuk berpuasa?

Hal ini telah ada contoh dari shahabat di masa Rasulullah sesuai hadits berikut..

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ « مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ » . قَالَتْ فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا ، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ ، حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

“Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa.” Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1960 dan Muslim no. 1136)

Tentu saja tidak memaksakan kepada anak ya, karena memang mereka belum terkena beban syari’at. Kalaupun di tengah-tengah puasa mereka mau makan atau minum tidak apa-apa. Yang dilakukan orangtua hanyalah memotivasi/ memberi semangat kepada mereka untuk berbuat amal kebaikan. Lain perlakuannya ketika mereka sudah baligh kelak.

Continue reading

Menjadi Istri yang Qonaah

1429572372069

“Pa, kok hidup kita begini-begini aja ya? tetangga yang lain sudah punya mobil, kita mah motoran aja dari dulu.”

“Yah, ayah kok ngga dapat THR ya kayak yang lain. Kan ibu pengen beli baju baru sama mukena buat persiapan lebaran.”

“Pak, pengen ini.. pak, pengen itu..”

Apakah pernah kita bercakap seperti hal tersebut kepada suami? Saya pernah, tapi tidak seperti contoh yang pertama dan kedua.

Contohnya ketika awal tahun lalu saya bilang, “Bi, pengen beli sofa bed”. Itupun karena melihat sisi manfaat yang bisa diambil, yaitu buat tempat duduk orangtua ketika berkunjung ke rumah kami. Apalagi ibu saya sedikit bermasalah di bagian lutut, sehingga ketika duduk lesehan agak kesulitan ketika berdiri. Kemudian juga bisa menjadi tempat tidur tambahan ketika ada keluarga menginap dan kamarnya penuh. Saya pun patungan dengan zauji ketika membeli barang tersebut, dan saya tahu suami sedang ada rizki agak lebih dan in sya Allah memungkinkan untuk membelinya. Jadi bukan semata-mata “mung pengen

Tapi saya pernah mendengar ada yang berkata seperti yang saya contohkan di atas. Dia mengeluh karena suaminya kurang dalam memberikan nafkah. Apalagi ketika lebaran, tidak ada THR yang dia dapatkan. Sehingga untuk memenuhi tuntutan istrinya tersebut, si suami pun “meminta” kepada atasan-atasannya untuk mendapatkan tambahan uang. Wallahul musta’an, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Qona’ah (merasa cukup dan puas), sikap ini harus dimiliki oleh seorang istri. Tentu saja hal ini pun saya sendiri masih terus belajar untuk bisa bersikap qona’ah. Terkadang masih ingin ini dan itu (ingin perbaiki teras depan, ingin ngecat rumah, ingin perbaiki pagar hihi..kok banyak ya), tapi in sya Allah masih bisa ditahan hingga rizki mencukupi.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah berikan kepadanya” HR Muslim (no. 1054)

Terkadang karena keinginan seorang istri, maka suamipun mengambil jalan pintas, bahkan dengan jalan yang dilarang Allah, misalnya mencuri atau melalui pinjaman riba. Na’udzubillahi mindzalik. Continue reading

Jangan Tergesa-gesa Dalam Berdoa

pray
credit : catatanmms.wordpress.com

credit : catatanmms.wordpress.com

Bulan lalu, saya belanja sebuah produk mainan yang digunakan pada bulan Ramadan. Qoddarullah ketika sudah ready stock dan mulai saya pasarkan, penjualan mainan tersebut berjalan agak lambat padahal sudah mulai mendekati Ramadan. Saya berpikir, kalau sampai Ramadan masih banyak stoknya maka mainan ini akan kehilangan moment dan mau tidak mau stock akan menumpuk. Padahal modal yang saya keluarkan cukup besar, sedangkan saya membutuhkan modal tersebut untuk belanja produk mainan yang lain.

Saya sudah coba segala cara mulai dari promo di facebook, upload di web, dan tokopedia.. namun penjualan tetap slow motion. Hingga seminggu sebelum Ramadan stok masih dalam kisaran 28 pcs. Waduh bingung juga ini bagaimana menghabiskan stok. Saya hubungi produsen minta keringanan untuk mendiscount harga produk untuk mendongkrak penjualan akan tetapi oleh produsen hanya diperbolehkan tambahan discount bagi reseller, bukan untuk ecer.

Semakin pasrah lagi, ketika ada video promosi produk tersebut oleh produsen, nama saya terlewat tidak tercantum di video tersebut hiks.. saya cuma bilang “ya wis ngga papa mba, mudah2an bisa habis sebelum ramadhan hehe..”. Padahal dalam hati kebat-kebit, piye iki kehilangan satu peluang pemasaran hihi..

Dalam masa tersebut tentu saja tak lupa saya berdoa kepada Allah. Sungguh-sungguh saya berdoa, ya Allah mohon tolong saya agar produk saya bisa terjual semua sebelum bulan Ramadan, hanya kepada-MU hamba memohon pertolongan. Akan tetapi saya merasa ya Allah kok doaku ngga dikabul-kabulkan ya. Iki wis cedak banget Ramadan mau tiba tapi masih ada 20-an lagi stoknya.

Hingga tibalah H-2 Ramadan, stok masih ada sekitar 15 pcs. Wis tawakal wae lah.. Continue reading

Jujurlah, Anakku

no-lies

Ajarkan kepada anak kita untuk tidak mengambil barang yang bukan haknya. Ajarkan hal itu, sedini mungkin.

Kisah pertama,
Beberapa waktu lalu di toko kami, ada anak kecil yang mengambil salah satu mainan yang tergantung di tempat display. Waktu itu saudara saya yang sedang jaga di toko. Saudara saya pikir dia ambil untuk menunjukkan kepada ibunya yang sedang pesan makanan di warung sebelah.

Eh ternyata sesaat kemudian dia mau pulang dan mainan itu tetap dibawanya. Ketika saudara saya bilang ke ibunya kalau anaknya membawa mainan kami, ibunya menyanggah, dan anaknya hanya diam saja. Ketika ditunjukkan bukti bahwa ada mainan yang sama di toko kami, baru ibu itu percaya dan mengembalikannya kepada kami.

Kisah kedua,
Ketika saya sedang belanja sayur di pasar, tiba-tiba si penjual menegur dengan keras seorang ibu yang sedang belanja di samping saya. “Bu, itu ayamnya keluarkan dari tas! Ibu itu mau beli kacang merah atau mau beli ayam?!”. Kemudian kata ibu pembeli di sebelah saya, “Eh maap kebawa (sambil mengeluarkan satu ekor ayam dari tas belanjanya)”, kemudian berlalu dari lapak sayur itu. Weleh, iso-isone ki lho, kebawa kok gede banget tho buu.. ayam utuh sodara-sodara!

Mari sama-sama belajar dari kedua kisah di atas. Jika anak pada kisah pertama perilakunya tersebut dibiarkan dan tidak diajarkan kejujuran/tidak boleh mengambil barang yg bukan haknya sejak dini, bisa jadi dikemudian hari dia akan tumbuh menjadi seseorang yg tersebut pada kisah kedua ketika dewasa.

Anak tersebut mungkin akan menjadi seseorang suka mengambil sesuatu yang bukan haknya, dia tidak merasa bersalah ketika merampas harta saudaranya, mencuri barang orang lain, atau merebut pasangan orang lain ‪#‎eh‬

Padahal sesuai firman Allah -subhanahu wata’ala- bahwa kita tidak diperbolehkan mengambil yang bukan haknya, tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara yang buruk.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, …” [an Nisaa/4 : 29].

Ajarkan mereka untuk senantiasa berlaku jujur, kapanpun, dimanapun. Bahwa jujur itu akan membawa kepada kebaikan, dan kebaikan akan membawa kepada surga.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْد رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Dari ‘Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” Hadits Bukhâri (no. 6094)

Ajarkan mereka bahwa Allah Maha Melihat segala sesuatu, dan kelak di akhirat kita harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita, termasuk mengenai harta kita, darimana didapatkan dan kemana dibelanjakan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.

Dengan mengajarkan anak point-point kejujuran di atas -tentunya disertai dengan doa kepada Allah memohon supaya anak kita dikaruniai akhlak yang baik- maka in sya Allah itu akan menjadi salah satu modal utamanya dalam mengarungi kehidupan.

Continue reading

Kecil-Kecil Ikut Ta’lim

bannerilmu

bannerilmuBeberapa waktu lalu ketika sedang ngobrol usai sekolah di TK Anshorussunnah, salah seorang ummahat bercerita bahwa ada seorang anak SMP yang rajin mengikuti ta’lim/ kajian di masjid Arrahman Bogor yang dilaksanakan pada hari Sabtu jam 16.00 dan Ahad jam 10.00.  Maasya Allah.. kalau anak tersebut sekolah di pondok atau SMP IT saya tidak begitu heran, akan tetapi dia bersekolah di sekolah negeri yang notabene pengajaran bidang agama tidak sedalam sekolah IT ataupun pondok.

Amazingnya lagi, tidak hanya sendiri, tapi saat ini anak tersebut bisa mengajak salah seorang gurunya dan ibunya untuk mengikuti ta’lim. Menuntut ilmu agama sesuai Al Qur’an dan Assunnah. Maasya Allah.. barokallohufiih..

Mendengar hal tersebut saya lalu flashback, mengingat kembali di masa-masa saya belajar di bangku SMP, kegiatan apa yang dulu saya ikuti?haduuh.. *malu* jauh banget dari kata ikut ta’lim. Ikutnya kegiatan-kegiatan organisasi non-agama. Baru ketika kuliah saja saya ikut ROHIS Fakultas, itupun tidak ada materi yang nyantol di kepala karena memang kurang ada kajian yang terkait pendalaman agama, misal bagaimana tata cara wudhu, sholat, zakat, dll yang sesuai dengan Al Qur’an dan Assunnah. Continue reading

Lecutan Penyemangat dari Pak Marhaban

bannersemangat
credit : beginwiths.deviantart.com

credit : beginwiths.deviantart.com

Beberapa waktu yang lalu salah seorang ummahat di grup wa ta’lim Bogor share artikel Renungan untuk Ikhwan Lendah (edisi 22) yang ditulis oleh Ustadz Abu Nasim Mukhtar. Ketika membaca artikel tersebut, ada ummahat yang nyeletuk “Masyaa Allah cerita di atas, jadi teringat ummu Khonsa’.. yg tiap hari nganter Khonsa dari Bil***** ke TK”. Nah, qoddarulloh kemarin juga ada teman SMA saya yang share artikel yang sama ke saya kemudian berkomentar “Kuwi cocok nggo In*** (nama saya) semangatt!!”

Ya, artikel tersebut membahas tentang seorang bapak bernama Pak Marhaban. Beliau berdomisili di Samigaluh, kecamatan paling utara di Kabupaten Kulonprogo dengan relief perbukitan. Tiap hari dia mengantar anaknya ke sekolah di Ma’had Ar Ridho Sewon di Kabupaten Bantul yang berjarak 40-50 km dari tempat tinggalnya. Waktu tempuh sekali jalan adalah 1,5 jam, sedangkan beliau sesudah mengantar anaknya ke sekolah kemudian pulang lagi ke rumah dan menjemputnya kembali di siang hari. Jadi total 6 jam beliau habiskan dalam perjalanan pulang pergi setiap hari. Sudah berapa lama beliau jalankan aktivitas tersebut? selama 4 tahun pemirsah! Maasya Allah..

Malu aku malu..pada Pak Marhaban *hayah*, saya mah ngga ada apa-apanya dibanding perjuangan beliau. Tiap hari saya antar Khansa hanya 15 km, jalan yang dilalui mungkin tidak seliku-liku pak Marhaban yang tinggal di daerah perbukitan. Waktu tempuh sekali jalan ya kurang lebih hanya 40 menitan. Hmm.. In sya Allah sebenarnya bisa lebih cepat jika jalan Bojonggede yang tiap hari saya lalui ada perbaikan mengingat kondisi jalannya saat ini yah bisa dibilang sebagian besar hancur. Bahkan ada beritanya di media elektronik mengenai hal ini, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut, padahal jaraknya dengan kantor Pemda Kabupaten hanya kurang lebih 8 km. Mudah-mudahan didengar oleh pemerintah Kabupaten Bogor dan segera ada perbaikan karena kondisinya sudah memprihatinkan. Terlebih jika hujan turun, suami pulang kantor basah kuyup, katanya seperti melewati arung jeram. Bukan lebay tapi memang begitulah adanya. Belum lagi sekarang yang menyusul kondisi jalannya memprihatinkan yaitu Jalan Pomad-Karadenan, hal ini menyebabkan waktu tempuh semakin panjang karena harus menghindari berbagai lubang yang cukup besar di jalan. Allahul musta’an. Continue reading